Smartphone or Dumbphone?

img_20190617_005735-1Tahu kan yah apa artinya Smartphone? trus aplikasi yang kamu punya membuat kamu smart gak tuh ?

Jadi gini, kejadian ini udah lumayan lama sih waktunya. Saat itu ketika kelas telah berakhir saya bertanya kepada tutorku, “Ms apa nama instagramnya?”.

Eh dianya malah menjawab dengan nyebelinnya “saya gak punya instagram karena tidak ada hal yang bisa saya dipamerkan dalam kehidupan saya”.

Jadi untuk menjaga gengsi, saya menjawab statementnya itu. “ini jaman modern loh Ms, kalau saya mah banyak hal yang bisa saya riyakan (pamerkan) dalam hidup saya, kan hidup saya menyenangkan. Hahaha”

“sepakat kan kalau kehidupan saat ini sering dihiasi dengan riya dan ghibah?”.

Dengan gaya khasnya tutorku mejawab “Bodo Amat, saya tidak suka dikepoin orang, lagian itu membuang-buang waktu gak jelas apalagi untuk berusaha dibilang bagus oleh orang lain, saya malas”.

Wah kalimatnya simpel tapi mengena banget.

Sampai dikosan saya berpikir lagi. “bisa gitu yah dia di zaman modern tanpa instagram? Masa iyah sih tidak ada gunanya? masih kurang bisa percaya (dasarnya emang stubborn sih saya)

Saya pun berinisiatif untuk mengajak tutor itu nongkrong bareng, eh ternyata dianya malah merespon dengan baik. Mantap

Jam 8 malam saya ketempatnya dan kita menuju ke salah satu kafe yang katanya hits di kampung inggris.

Selanjutnya kita memesan makanan dan mencari tempat duduk lalu mulai bercerita  tanpa ada topik tertentu, dari membahas film, membahas buku dan bahkan membahas tentang kilas balik kampung inggris.

Oh yah kalimat yang paling saya ingat darinya adalah “sore merupakan potongan hari yang terlalu indah untuk dilewatkan, makanya saya suka menikmatinya walau hanya sekedar keliling motoran atau sepedaan di sore hari”, sepakat banget saya nih.

“Kesiniin hp kamu saya pengen melihat isinya dan instagram kamu yang kamu bangga-banggakan itu”. Secara tiba-tiba dia ngomong seperti itu.

Tentu saja saya berikan, tapi dengan perasaan was-was dong.

Lumayan lama dia periksa tuh instagram dan sumpah itu membuat saya gelisah, pikiran  mencoba menebak-nebak dia ngeliatin apaan sih?, tuh tutor nyari apaan coba?, hawatir dong saya, hahaha.

“Nih kok gak ada yang berhubungan dengan bahasa inggris yah semua tampilan yang ada di wall instagrammu?” Dia bertanya

“Masa iyah sih ms, perasaan ada deh, saya kan mengikuti jay shetty dan beberapa akun lainnya”. ngeles

“Nih buktinya cuman beberapa aja yang muncul dari tadi, itupun dikit doang dan kalaupun ada paling hanya caption yang ditulis oleh orang indonesia dalam bahasa inggris”, katanya.

“Dan ini juga gak ada aplikasi yang berguna di hpmu, semua hanya social media yang kamu sendiri gak efektif memakainya, dasar haus ketenaran”, gila, jleb banget emang cara ngomongnya.

“Nih lihat hpku!” Diapun menunjukkan hpnya dengan aplikasi FB

“okey zaman udah maju dan masih memakai FB”, pikirku meremehkan hohoho.

“Nih video comedy bahasa inggris, nih motivasi bahasa inggris, nih nih dan terus semua kontennya beragam dalam bahasa inggris”. Tutorku

“Kalau kamu mau belajar bahasa inggris itu jangan setengah-setengah, hpmu itu hp pintar jadi gunakan dengan baik, download aplikasi yang membantu, follow akun yang bisa menampilkan bahasa inggris (serial TV barat, selebgram barat, artis-artis dan channel barat), jadi kalaupun kamu main hp kamu masih tetap dapat hal yang berhubungan dengan bahasa inggris dan itu juga salah satu cara belajar”, lanjutnya.

Wah seriusan malu banget, seketika itu juga saya ambil hp dari atas meja, download aplikasi-aplikasi bahasa inggris, unfol yang gak penting dan memfollow setiap akun yang saya pikir bisa membuat saya bisa improve dalam bahasa inggris.

Thank you ms, kamu berhasil membuat saya malu tapi akhirnya saya bisa mendapatkan improvement yang baik dengan cara yang sederhana kok.

So, bagaimana denganmu, apakah yang kamu pegang itu benar-benar Smartphone ?

Iklan

Another Nonsense

img_20190616_040138

Berapa kali dalam hidup ini kalian membuat alasan untuk bisa terbebas dari sesuatu ?

Kali ini tolong biarkan saya tertawa bebas atas pemikiran ini. “Hahaha” sungguh malam ini sangatlah lucu bagiku karena masih terperangkap dengan cerita yang sama. Yah masih sama dan selalu sama hingga mungkin kalian pun bosan denganku. Perjalanan menaklukkan kelemahan menulis ini ternyata sangat unik. Mungkin kalian berpikir apakah coretan ini hanya akan membahas seputar kelemahanku dalam menulis saja? Atau mungkin saya tidak memiliki hal lain untuk dibahas? Sumpah, ketika kalian berpikir demikian saya pun sesungguhnya seribu kali lebih bosan dengan hal ini. Tapi yah inilah diriku, perjuanganku dalam mengatasi musuhku saat ini. Dan saya yakin bahwa kalian pun memiliki kelemahan kalian tersendiri kan? Percayalah segalanya membutuhkan proses yang panjang karena tidak ada yang instan didunia ini (mie instan aja masih butuh proses untuk menyajikannya)

Sebenarnya sebelum memposting “TULISAN” ini saya telah menulis sesuatu dan mengirimkannya kepada mentorku untuk dikoreksi (saya memanggilnya mentor karena dia yang menantangku untuk menulis apapun). Tidak lama berselang diapun merespon dan berkata bahwa tulisanku masih terlalu umum dan kurang menarik karena bocah SMPpun bisa melakukannya “ hahaha padahal itu membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam loh untuk menyelesaikannya”. Maka banyak hal yang dia perbaiki sebagai masukan dan koreksian. dan langkah selanjutnya adalah ditantanglah saya untuk memperbaiki tulisanku itu lalu mengirimkannya kembali padanya.

Mulailah saya termenung, berpikir kembali, merilexkan otak dan mencoba mendapatkan kembali ide-ide penulisan. Tapi ternyata, otakku hanyalah merekam gambaran yang berulang itu-itu saja, “wah alangkah begonya saya” pikirku saat itu. Lebih dari 1 jam saya hanya menatap layar komputer dengan pikiran yang masih saja terus kosong, tangan pun sudah mengusap kepala berkali-kali dan diri ini sudah mulai tertawa tidak jelas atas kebodohan ini (hahaha sungguh lucu rasanya berada dalam kegoblokan ini). Mulailah segala godaan untuk berhenti menghampiri, segala macam alasan hinggap kedalam pikiranku, meminta maaf kepada mentorku agar dimaklumi ataupun meminta pengertian darinya agar ditunda koreksiannya. Oh rasanya saya pengen menyerah saja dulu untuk malam ini.

Tapi wait saya tidak  boleh seperti ini “sisi lain dari pikiranku mulai memberontak”, saya bukanlah anak manja yang mau selalu dikasihani dan saya bukanlah pengecut yang mudah lari dari tantangan. Mulailah saya asal menulis apa saja yang ada dalam pikiranku bahkan ketika pikiranku sedang kosong sayapun menulisnya (saat ini pikiranku sedang kosong, saat ini pikiranku sedang kosong), saya lakukan itu berkali-kali dan biarkan segalanya mengalir. beberapa dokument saya buka serentak hanya untuk sekedar menumpahkan segala macam kerumitan yang ada di pikiran dengan tujuan menepis segala macam alasan untuk menyerah.

Lucky I’m, dengan cara konyol seperti itu pikiranku mulai agak sedikit terbuka dan mulailah saya membuat coretan ini, menyelesaikannya dan mempostingnya agar kalian bisa tahu betapa recehnya saya dalam menghadapi hal ini. Saya membuatnya dengan tidak memikirkan bagus atau tidaknya hal itu. Hal yang terbersit dalam pikiranku adalah Jangan Pernah Mundur dan Terus Mencoba karena saya pribadi adalah seseorang yang mempercayai bahwa “Practice Makes Progress”.

Ketika Saya Tidak Mau Menyerah, Bagaimana Denganmu?

Recognize your own weakness!

img_20190615_013046Apa kelebihanmu ? mengapa orang harus menganggap bahwa kamu spesial ? setelah menjawab 2 pertanyaan itu maka mulailah bertanya lagi  “APA KELEMAHANMU?”

Setiap orang (mungkin) pernah merasa kalau dirinya spesial, merasa hebat dan merasa kalau dia berhak untuk mendapatkan keistimewaan lebih dari orang lainnya. Begitu pula saya, hampir setiap waktu pikiran sombong itu datang dan terngiang didalam otakku yang kecil ini “Saya bisa melakukan itu, hal itu mudah saja bagiku, rasanya tidak terlalu berat kok kalau saya mau lakukan” Dan yah saya selalu terpikir dengan keangkuhan itu kapanpun dan dimanapun tanpa mengenal waktu terlintas dipikiranku.

Seiring berjalan waktu saya semakin memahami diriku dan sadar bahwa saya bukanlah superhero yang dapat melakukan segalanya. Saya memiliki kelebihan (cakep, sedikit cerdas, hidung mancung, kulit eksotis dll, hohoho) tapi pasti juga saya memiliki kelemahan. Mulailah saya mencari tahu apa kelemahanku. Saya mulai menganalisa diriku dan mengevaluasi segala yang saya lakukan. Amazingly, hal yang saya dapatkan sangat-sangat bertolak belakang, yang selama ini saya berpikir bahwa saya hebat ternyata faktanya kelemahanku jauh lebih banyak daripada kelebihanku hanya saja saya selalu menutupinya entah secara sadar ataupun spontan. Dan salah satu yang paling saya pahamin dari kelemahanku saat ini adalah “MENULIS”.

“Saya tidak bisa melakukan itu, saya lemah dalam hal ini”, sering kali kalimat itu saya ucapkan untuk melarikan diri dari kekuranganku itu, sering kali saya jadikan alasan agar bisa dibantu oleh orang lain, dan sering kali saya bersembunyi dari kalimat itu agar orang lain dapat memaklumi dan memahamiku. Ternyata itu adalah kesalahan besar yang selama ini saya lakukan, daripada bertindak saya malah lebih memilih mengaku kalah, daripada mencoba menaklukkan saya malah melihat hal itu sebagai tembok besar yang menghalangi. Dan ternyata betul semakin saya menganggapnya sebagai halangan maka semakin kokoh tembok itu terbentuk bahkan menjadi sebuah benteng, dan bodohnya saya yang telah membangun benteng kelemahan itu dalam pikiranku sendiri.

“MENULIS” mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang tapi ternyata benar-benar membuat saya kewalahan. Tidak jarang saya merasa kebingungan untuk menemukan ide, bahkan seringnya pikiranku berasa kosong ketika pertama mencobanya. Kerap terjadi ketika buku sudah siap dan polpen sudah di tangan tetapi mood untuk menulis tiba-tiba hilang, sering juga ketika laptop sudah nyala, ide sudah dipersiapkan dan segalanya telah tersettle dengan baik malah langsung terhenti ditengah jalan dikarenakan pikiran yang tiba-tiba menjadi rumit dan segala idepun lenyap entah kemana, lebih konyolnya lagi adalah saya selalu khawatir jika telah menulis dan karyaku dibaca orang lain dan mereka berpikir ini adalah hal yang trivial (receh). Disaat untuk membuat tulisan sesimpel inipun bukanlah perkara yang mudah bagiku, membutuhkan waktu berjam-jam, membutuhkan delete-rewrite lagi dan lagi untuk dapat menyelesaikannya.

Satu hal yang saya pelajarin saat ini adalah ketika seseorang memahami kelemahannya maka disaat itulah dia akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan syarat dia terus belajar untuk memperbaikinya. Ketimbang selalu menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melakukannya kenapa kita tidak mencoba untuk menaklukkannya. Melakukan kesalahan adalah suatu keharusan karena tidak ada yang akan kita pelajari jika kita selalu benar, maka berbuatlah, lakukanlah kesalahan sebanyak mungkin dan setelah itu pelajarilah maka kamu akan bisa berdiri dikalangan para pemenang.

SUDAHKAH KAMU MEMAHAMI DIRIMU?

EXCUSES LEAD TO NONSENSE !

img-20190525-wa0045Membaca karya mark manson (sebuah seni untuk bersikap bodo amat) kali ini benar-benar seperti merefleksikan diri saya yang selama ini hanya banyak omong dan bermimpi tapi tidak berani mengambil tindakan. Sebuah analogi yang diangkat olehnya merupakan sebuah tamparan hebat bagi saya yang seorang bunch of nonsense ini. Pada saat ini saya ingin melakukan sebuah confession atas kebulshitan yang selama ini saya ungkapkan tapi belum terealisasi dan semoga membuat saya menjadi lebih berani beraksi.

Mark manson memberikan contoh dalam karyanya:

“saya punya seorang teman yang bertahun-tahun menceritakan niatnya untuk memperkenalkan karya seninya secara online dan berusaha menjadi seniman profesional (atau setidaknya semiprofesional). Dia berbicara mengenai hal ini selama bertahun-tahun bahwa dia telah menyisihkan uang, bahwa dia bahkan membuat website yang berbeda dan telah mengunggah portofolionya. Tetapi, dia tidak pernah meluncurkan karyanya. Selalu ada alasan: resolusi lukisannya tidak cukup bagus, atau dia baru saja melukis karya yang lebih bagus, atau masih belum ada waktu untuk hal tersebut. Tahun demi tahun berlalu dan dia tidak pernah melepaskan “pekerjaan nyata”-nya. Mengapa ? karena : meski mimpi akan penghasilan yang layak dari seni itu menyenangkan, ada ketakutan nyata jika nanti dirinya menjadi Seniman Tak Laku. Menjadi Seniman Tak Laku jauh-jauh lebih mengerikan ketimbang menjadi Seniman yang Tak Pernah Didengar. Setidaknya dia nyaman dengan sebutan Seniman yang Tak Pernah Didengar”.

So, dapatkah kalian melihat makna dari tulisan tersebut? kita sering takut melakukan sesuatu, takut dengan pendapat orang lain ketika kita memiliki ide, takut mengeksekusi hal baru karena banyaknya kehawattiran yang tidak nyata, takut dikucilkan dan bahkan kita cenderung ingin dianggap besar oleh orang lain dengan memberikan statement statement yang penuh semangat tapi kita sendiri belum berani melakukannya.

Setelah membaca analogi di atas sayapun mulai melihat diri ini dengan lebih dalam, hal apa yang selama ini hanya menjadi omong kosong yang melekat pada diriku, dan finally sayapun menyimpulkan beberapa hal:

Selama setahun belakangan tinggal di kampung inggris, saya kerap diberikan pertanyaan ini “Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” dan dengan penuh percaya diri saya menjawab “saya ingin mengejar beasiswa dan melanjutkan study S2 ke luar negeri ”, merekapun memuji niat itu dan tentunya pertanyaan semakin banyak dan sayapun semakin banyak menjelaskan dengan segala seluk-beluknya.

Tapi ternyata semakin bergulirnya waktu saat ini saya sadarin bahwa saya adalah pengecut yang sepertinya hanya haus pujian. Saya belum berani melangkah sama sekali, saya belum berbuat apapun untuk meraih beasiswa. Hal termudah dan paling crusial dalam mengejar hal itu masih selalu menjadi omongan belaka, CV dan motivation letter belum ada sama sekali dalam layar komputerku. Selalu saja ada alasan untuk tidak melakukannya: mulai dari waktu yang tidak ada, belum pintar membuatnya, bingung mau memulai darimana, tulisanku belum terstruktur dengan baik dan berbagai macam alasan pelarian lainnya. Konyolnya, saya mengetahui kelemahanku tersebut tapi masih saja tetap terlena dengan menunda-nunda untuk melakukannya. tentunya banyak juga hal lainnya yang belum sempat saya lakukan akibat banyaknya penundaan (seperti membuat buku belajar bahasa inggris).

Terima kasih buat karya hebatnya Mark Manson yang sudah memukul saya tepat pada sasarannya dan membuat saya babak belur pada pikiran ini, membuat saya tersadar akan kelemahanku sendiri yang masih mudah procrastinate akan segala sesuatu dan ingin dianggap hebat oleh orang lain. Oleh karenanya, from now onwards adalah saatnya saya untuk berjuang lebih kuat lagi dan berdamai dengan diri.

Bagaimana dengan anda sendiri ? hal apa yang masih menjadi musuh bagi diri anda ? ayo diskusi…!

 

How Technology Plays His Role

James Bridle is the speaker of TED TALKS on July 13, 2018. He talked about his works  concerned in technology but the funny fact is he doesn’t really trust in technology. He explained about what happen in the internet nowadays especially on YouTube.

There are many contents spreading on internet. One of them is “surprise egg” video. Basically this video is about someone opening up loads of chocolate eggs during 7 minutes just to show all about it which is really wasting time and useless. On the other hand this kind of video has many viewers and many subscribers. From all the contents on YouTube, there are many similar contents especially for kids channel. And also some contents being abused from the cute and adorable things to horrible and make traumatized for children.

So, as a parents it’s necessary to always guide the children when they are watching video on YouTube and give parental guide so they keep in track to watch proper video suiting their age. Moreover parents have to educate their children how to use YouTube wisely.

Source: https://www.ted.com/talks/james_bridle_the_nightmare_videos_of_childrens_youtube_and_what_s_wrong_with_the_internet_today/reading-list

Good city for living from the largest cities of the world

Do you know the largest city in the world ? With the wide world that contain of many continents there are five cities that largest in the world, such as : Los Angeles (LA), London, Shanghai, Mexico City and Tokyo. Perhaps we ever imagine to live in these cities, but before deciding to live in it that is better to observe and know the condition of the city, including population, supplied basic services, clean water and the rate of mortality.

According to the data of five largest cities there are many comparisons from each city, such as: London is the noisest city but have in common with Tokyo in very good supplying of basic services for their society. In addition Tokyo is the safest city to live in with the mortality rate only 1.4 per 100.000 people, yet that city is the heaviest traffic congestion with around 44.8/km per hour in rush hour. Besides, Mexico City is the worst water polution city with only have 2 point from score out of ten for cleaning water. And also Tokyo, Shanghai and LA are the good city in education with the percentage up to 90% of children in secondary school. From all the description its very interesting to compare two cities that bring representative of two continents, both are : LA as America and Shanghai as Asia.

LA and Shanghai are the good city to live in it. With the different continents that influence the lifestyle and culture. First, LA is the fewest inhabitants than the other city but become the second big number of murder after Mexico City that’s around 12.4 per 100.000 people and also the providing of clean water not really good its only 3 point from the score out of ten. With this situation that is need more struggling to survive for living in LA. Second, Shanghai is the city of Asia that provide good water with the point of 7. Besides the rate of murder is lower than LA its only 2.5 per 100.000 people, so it is safe to live. Especially for Indonesian with the same continent and not really big space of culture it will be easier to live in Shanghai.

From all data above, to decide for living between LA or Shanghai is on your own perseption. For those who like challenging it will be nice to live in LA with the all hard condition, but Shanghai also is the good choises for living by consideration of safety life and clean water. For me I prefer to choose LA for enjoying my life in it.